Solusi Untuk Linux Yang Berat Dan Lambat

Linux, sebuah kernel yang biasa digunakan untuk membangun sistem operasi open source baik itu dalam bentuk server maupun desktop. Sekarang ini, ada banyak sekali Distro Linux yang bisa menjadi pilihan, mulai standar desktop sampai yang dibangun dengan fitur khusus (misalnya untuk jaringan). Dengan banyaknya jumlah pilihan yang tersedia tentu memudahkan pengguna untuk menentukan distro mana yang sesuai dengan kebutuhan, namun yang paling populer tentu saja distro Ubuntu dan turunanannya atau distro yang dibangun dengan basis Ubuntu.

Untuk pengguna Linux yang sudah familar atau katakanlah terbiasa, pastinya tidak akan menemui kendala dalam penggunaannya karena sudah memahami batasan-batasan yang diperlukan. Berbeda dengan pengguna baru yang terkadang berawal dari coba-coba yang kemudian berkelanjutan tanpa memikirkan hal lainnya.

Biasanya, pengguna baru terutama dual boot (Linux dan Windows) sering kali mengeluhkan perangkat komputer sangat berat saat menjalankan Linux. Hal ini sebenarnya sangat sederhana, namun terkadang memang menjadi masalah.

Pada dasarnya, jika memang menggunakan dual boot maka harus melakukan perhitungan dengan baik saat mengalokasikan space atau kapasitas disk yang akan digunakan sebagai tempat instalasi Linux. Katakanlah mengalokasikan 25GB dimana 20GB sebagai disk, 1GB sistem boot, dan 4GB untuk swap. Maka yang perlu diperhatikan adalah kapasitas disk yang hanya 20GB, normalnya dengan kapasitas sekian sudah lebih dari cukup untuk sekedar mencoba Linux, dengan catatan tidak menginstal banyak aplikasi tambahan.

Jika memang hendak mencoba atau menginstal bermacam-macam aplikasi, maka alokasikan disk yang lebih besar. Hal ini untuk menghindari pemaksaan terhadap perangkat yang digunakan (komputer), sehingga akan mengurangi kemungkinan komputer dengan sistem operasi Linux yang digunakan menjadi berat/lambat.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah pemilihan jenis sistem operasi yang sesuai, ada banyak pilihan sistem operasi Linux, dan itu memungkinkan memberi pilihan yang tepat agar sesuai dengan spek komputer yang digunakan.

Misalnya saja ingin menggunakan Ubuntu tapi ternyata perkiraan komputer akan berat saat menjalankannya, maka cari distro turunan atau distro lain yang dibangun dengan basis Ubuntu yang tentunya jauh lebih ringan.

Peluang terakhir untuk mengurangi tingkat beban komputer saat menjalankan Linux adalah dengan mematikan/non-aktifkan sistem-sistem yang tidak terpakai, misalnya saja animasi, grafis, startup dan sebagainya (tidak jauh berbeda dengan Windows).

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, kemungkinan besar tingkat lambatnya komputer dengan sistem operasi Linux akan berkurang.

Memilih Distro Yang Sesuai
Dalam hal ini sebenarnya lebih mengarah pada selera, saya sendiri memilih menggunakan Ubuntu namun distro lain dengan basis Ubuntu. Jika dibandingkan sebenarnya sama saja, namun karena saya suka dengan style antarmukanya sehingga memilih menggunakan distro turunan.

Untuk pengguna Ubuntu sendiri biasanya kebanyakan akan menjatuhkan pilihan pada distro turunan seperti Xubuntu atau Kubuntu, beberapa juga memilih menggunakan distro lain dengan basis Ubuntu seperti Linux Mint. Jika dibandingkan secara detail memang ada perbedaan resource, hal itu disebabkan oleh basis pembangunnya seperti Gnome, KDE, dan sebagainya.

Kalau masalah rekomendasi distro mana yang terbaik, itu kembali pada masing-masing pengguna. Intinya harus paham spek komputer yang digunakan dan bisa memanfaatkan resource yang ada seperti perbandingan antara disk dan aplikasi yang akan di install dan sebagainya.